Menulis Berita di Media Massa

Hey guys! sorry nih agak lama upload lanjutan perjalanan gue di medical journalism. Anyways, sebelumnya kita kedatangan tamu dari TEMPO, guess what, kali ini, di hari kedua kuliah medical journalism, kita kedatangan tamu dari Kompas.

Di hari Rabu, tanggal 7 Mei, masih di ruangan dan jam yang sama, gue datang ke kelas tepat waktu. Berbeda dari yang sebelumnya, pemateri yang datang adalah seorang perempuan, dia adalah Deonisia Arlinta atau dipanggil kak Intan. Beliau dari Kompas di bidang isu kesehatan dan iptek.

Seperti biasa, kuliah diawali dengan perkenalan singkat dari kak Intan, lalu dilanjutkan dengan pemaparan materi. 

Kita belajar tentang apa itu berita, apa yang harus diperhatikan dalam menulis berita, dan bagaimana proses penulisan berita hingga layak tayang di media. Tentunya hal ini berkaitan banget sama dunia wartawan dan jurnalistik. 

Jadi, berita itu adalah hasil dari kegiatan yang meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi, baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara, dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Kenapa gue bisa menjelaskan dengan jelas seperti ini adalah karena penjelasan tersebut saya ambil dari materi presentasi kak Intan yang bersumber dari UU 40/99 Tentang Pers.

Gue pikir membuat berita itu mudah, seperti halnya story telling saja. Tetapi ternyata, membuat berita itu merupakan sesuatu yang tidak mudah. Kita harus teliti, akurat, dan menarik, oh ya, dan yang paling penting, harus punya "news value".

Dari kuliah ini, kak Intan juga memaparkan teknik piramida terbalik dalam penulisan berita, sama seperti kuliah sebelumnya bersama Bung Mustafa adri TEMPO.

Perlu gue ketahui juga bahwa berita itu berbeda dengan opini, ini hal penting yang gue ketahui karena dengan itu, gue bisa membedakan mana yang berita dan mana yang opini. Berita itu sifatnya faktual, objektif. Berbeda dengan opini, opini bersifat subjektif. Seperti Kamu yang sedang membaca ini, ini merupakan opini, bukan berita, sebenarnya bisa saja, sih, gue bikin berita dari perjalanan perkuliahan ini, tapi gue belum terlalu mahir dalam membuat berita. So, this is just part of my little opinion and I hope you guys like it. 

Banyak kita lihat di media sosial, baik di Instagram, facebook, dll, tentunya dalam akun-akun tertentu, itu menyebarkan opini, bukan berita maka dari itu, gue sendiri tidak mudah percaya informasi dari media sosial, masih perlu verifikasi lagi dengan membaca berita yang sebenarnya, makanya dinamakan media sosial, bukan media massa, karena isinya adalah opini.

Kak Intan juga menjelaskan berbagai tips tentang cara membuat berita, mulai dari mencari topik yang paling menarik sampai kita yang harus melakukan verifikasi dan konfirmasi informasi yang didapat. Lagi-lagi ini semua adalah tentang akurasi, akurasi, dan akurasi.

Setelah kak Intan selesai memaparkan materi yang bermanfaatnya, kuliah dilanjut dengan berdiskusi bersama. 

Kami melakukan tanya jawab bersama kak Intan. Waktu itu gue bertanya, apakah layak wartawan menyebarkan informasi identitas dari korban misalkan pelecehan seksual atau yang lainnya, karena takutnya jika disebarkan, sang korban justru bisa terjadi mental yang buruk atau bahkan direndahkan di lingkungannya. Lalu kak Intan menjawab, hal itu memang ada etikanya, tentu wartawan tidak semudah itu dalam menyebarkan informasi, apalagi soal identitas seseorang yang statusnya menjadi korban dari suatu kiriminalitas. Maka, digunakan identitas samaran atau inisial untuk hal itu.

Oke, tanya jawab selesai, seperti biasa, kita melakukan sesi foto bersama, dan ya, kuliah selesai. Di akhir, Pak Usman memberikan perhatian ke kita tentang tugas akhir dari blok elektif medical journalism ini. Tugas akhirnya, kita harus membuat news letter. Sistemnya kita dibagi-bagi untuk mengerjakannya, jadi, 15 mahasiswa di blok elektif ini, hasilnya membuat 1 news letter sebagai tugas akhir. 



Dan di akhir, gue bisa bilang, kuliah kali ini, sama seperti yang sebelumnya, pretty interesting. Next session, kita bakal ada kunjungan nih, mau tahu ke mana? masa gue kasih tahu si, nanti gak seru dong. So, stay tuned for the next fun!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kau yang di sana

Medical Journalism, Emang Seru?

Belajar Jurnalistik